Perbedaan ras manusia serta perbedaan bahasa mereka memang semata-mata ciptaan Allah.
Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Dia tidak hanya sekedar menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam begitu saja dan selesai, lalu semua dikembalikan kepada hukum alam, seperti yang seringkali kita yakini.

Tidak demikian, tapi yang benar adalah Allah SWT menciptakan Nabi Adam dengan segala keunikannya, juga menciptakan terus manusia baru dengan segala keunikannya, termasuk keunikan ketika.
Allah menciptakan keberagaman ras dan bangsa manusia yang saling berbeda.
Jadi kalau pertanyaan Anda, kenapa manusia beragam jenis ras, padahal Nabi Adam cuma satu, maka jawabannya bahwa Allah SWT memang menciptakan ras manusia, tidak berhenti pada penciptaan Adam saja.

Walau pun awalnya Allah SWT hanya menciptakan satu manusia, lalu menjadi dua, kemudian menjadi banyak, tapi Allah ‘tetap’ mencipta. Dia tidak berhenti mencipta, Dia tidak hanya sekedar menciptakan alam semesta dalam waktu enam hari lalu setelah itu pada hari ketujuh, Dia berhenti dan kecapean. Maha Suci Allah dari segala sifat itu.
Maka sebagai muslim, kita tetap wajib mengimani bahwa Allah SWT tetap bersifat Al-Khaliq (Pencipta) bahkan sampai detik ini. Keajaiban penciptaan Allah tidak berhenti hanya sampai diciptakannya nabi Adam saja, tapi ‘keajaiban’ itu tetap terus berlanjut sampai sekarang, dan akan tetap terus berlanjut.

Semua manusia termasuk diri Anda diciptakan dengan sangat unik, satu per satu punya keunikan, satu per satu punya keistimewaan, satu persatu punya kelebihan, satu per satu punya ‘miracle’-nya sendiri. Manusia atau kita ini bukan sekedar sebuah produk massal, kita ini tidak seperti barang industri pabrik. Tapi kita ini ibarat industri kerajinan tangan, yang diciptakan satu per satu, dengan tingkat ketelitian yang amat tinggi dan keunikan yang spesifik.
Demikian juga dengan bahasa, walau pun awalnya bahasa manusia cuma satu, yaitu bahasa Arab, namun setelah itu Allah pun menciptakan beragam bahasa umat manusia.
Maka adanya sekian jenis ras manusia dan ragam bahasa, jangan dikira muncul secara kebetulan. Semua itu muncul dengan alasan tersendiri, dengan segala kerumitannya, dan ketentuan dengan ’sentuhan’ langsung dari Allah SWT.


Allah SWT menciptakan manusia satu persatu, mulai dari zygote, lalu janin hingga menjadi manusia. Ternyata masing-masing punya struktur DNA sendiri-sendiri yang unik dan spesifik.
Bahkan sidik jari manusia dibuat berbeda satu dengan lainnya. Kalau para programer bilang, masing-masing punya ‘ID’ tersendiri.


Dan kenyataan seperti ini jauh dari yang seringkali dibayangkan oleh para pendogeng abad ke 18 tentang kejadian penciptaan manusia yang menurut mereka hanya terjadi secara kebetulan. Mereka, para evolusionis itu, berhayal tentang munculnya manusia atau bahkan makhluk hidup,  sekedar sebuah ‘kecelakaan’. Misalnya mereka bilang karena ada zat Amonia yang terkena sambaran listrik. Lalu ‘wow’, tiba-tiba jadi makhluk hidup lalu muncul manusia. Sungguh sangat ‘kartun’ sekali.
Padahal ketika dunia sudah masuk abad 20, kita tahu bahwa di balik setiap makhluk hidup ada struktur yang rumit, yang membuat ‘teori kebetulan’ akan menjadi dongeng masa lalu. Semua tidak muncul tiba-tiba begitu saja, pasti ada alasan di balik semua keunikan dan ‘miracle’ ini.

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191)
Jadi munculnya ras dan bahasa yang beragam, dalam aqidah Islam dikatakan bukan hasil dari evolusi seperti yang dihayalkan para evolusionis. Tetapi semua langsung diciptakan oleh Allah SWT, dengan masing-masing alasannya.

Orang-orang kafir yang atheis memang suka berhayal untuk merontokkan iman umat Islam yang lemah. Padahal apa yang mereka tulis itu tidak lain hanya sebuah teori semata, di mana Darwin sendiri ketika masih hidup pun sudah meragukan teorinya sendiri. Lagian, semua teori itu belum pernah dibuktikan, karena memang mustahil dibuktikan.
Sebab teori evolusi itu mensyaratkan waktu yang panjang, sampai jutaan tahun. Lalu percobaan mana yang bisa dilakukan secara empiris, kalau syaratnya harus dilakukan dalam kurun jutaan tahun yang lalu.

"Iman Adalah Kunci"

Buat kita yang masih mengakui punya Tuhan dan beriman kepada-Nya, apa susahnya sekedar mengakui bahwa Allah SWT Maha Pencipta.
Tidak ada yang repot kalau sekedar mengakui sisi lain dari dorongan insting kita, bahwa di balik semua fenomena alam semesta ini, ada Tuhan yang memang punya kekuasaan mutlak untuk menciptakan manusia dengan beraneka ragam ras, jenis, warna kulit atau bahasa.

Mungkin buat orang yang pada dasarnya merasa punya rasa sombong dan tinggi hati sambil merasa sudah pintar, rasanya mungkin susah kalau untuk sekedar mengakui keberadaan Allah. Padahal yang bikin susah justru sikap sombong dirinya sendiri, yang terlanjur merasa diri sudah pintar, sampai akhirnya tidak mau mengakui keberadaan Allah.
Apa susahnya mengakui Allah SWT telah menciptakan anak-anak Nabi Adam dengan beraneka jenis ras. Yang satu hitam, yang lain putih, yang lain merah, yang lain coklat.
Apa susahnya mengakui Allah SWT menciptakan manusia terdiri dari sekian jenis suku dan bangsa.
Apa susahnya membaca sekaligus menerima dan meyakini kebenaran ayat berikut ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13)

0 komentar:

Post a Comment

Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Pree Blogger Templates | My bhiie